Cari Berita

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Senin, April 20, 2009

HARUSKAH KITA JADI ORANG YANG MERUGI?


Assalamu'alaikum wr, wb

Wal'asri, demi waktu, sesungguhnya kita itu selalu merugi,
Renungkan, waktu terus berjalan tanpa kompromi, dan kita kadang hanya terdiam bahkan sering malas-malasan. Padahal paling lama kita hidup 60-80 tahun, sementara hari demi hari, bulan dan tahun demi tahun, apa yang telah kita lakukan? mengabdi pada Alloh?, atau pada pekerjaan duniawi?, coba kita hitung bersama berapa banyak kita berbuat baik, dan berapa banyak kita berbuat dzolim, sementara Dosa itu bagaikan angin, tanpa kita bergerak dia sudah behembus ke seluruh tubuh kita. Seperti pernah saya dengar, seorang ulama berkata "sejak bangun tidur kita membuka jendela, Dosa sudah menunggu dihadapan kita, entah dari Mata, Mulut, Telinga, Tangan, Kaki dan bahkan Hati Kita, selalu saja tergoda untuk berbuat Dosa tapi untuk melakukan Kebajikan, pernahkah terpikir?" bahkan solat kita saja mungkin karena diwajibkan, itupun kita sebatas menunaikan kewajiban itu belum dapat pahala, karena hukumnya wajib itu dilaksanakan berpahala (mungkin) dan ditinggalkan Sudah pasti Dosa, jadi antara mungkin dan Dosa, artinya mungkin berpahala dan mungkin gak, Wallohu 'alam
Maka mungkin benar kata Abu Nawas "Kita tidak pantas masuk surga, namun kita juga tidak ingin masuk neraka" karena apa? karena memang kita lebih banyak Dosanya dari pada Pahalanya, maka hanya kemuliaan Allohlah yang bisa bikin kita masuk dalam surganya, Amiin!
Maka dari itu, kita hendaknya selalu Itighfar untuk membersihkan Dosa-Dosa kecil kita, karena sesungguhnya Alloh maha Pengasih lagi maha Penyayang, bagi umat yang selalu mengingatnya.

Wassalamu'alaikum wr, wb
Cah Kebumen

Maaf artikel ini khusus bagi kaum muslimin, seiman seagama, tapi bagi yang non muslim boleh saja membaca siapa tau jadi pertimbangan tersendiri

Jumat, Oktober 31, 2008

Niat Itu Nilai Utama Ibadah


Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syakilatihi) masing-masing”.

Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”

(Al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat 84)

Diriwayatkan dari Imam al-Shadiq as, bahwa beliau berkata, “Niat itu lebih utama daripada amalnya. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya niat itu adalah amal”, kemudian beliau membaca ayat : ”Katakanlah : ”Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syakilatihi) masing-masing”, yaitu menurut niatnya.”

Islam telah mengikatkan nilai suatu ibadah dan kerja berdasarkan niatnya. Dengan demikian, Islam memisahkan nilai dan hasil suatu kerja atau ibadah seseorang. Nilai sebuah perbuatan dalam Islam tidak didasarkan pada hasil atau pencapaian yang dihasilkan oleh para pelaku, akan tetapi pada niat yang melatarbelakanginya, kesucian, serta besarnya kesungguhan di dalam usaha atau ibadah seseorang.

Contohnya, orang yang berhasil menemukan obat sebuah penyakit berbahaya telah menyelamatkan nyawa jutaan orang. Allah tidak menilai seberapa besar hasilnya juga jumlah orang yang telah terselamatkan dari kematian.

Allah menilainya dari perasaan dan keinginan yang terbentuk di dalam niat sang penemu. Jika usaha penemuannya itu hanya untuk mendapatkan keuntungan jutaan dollar, perbuatan ini tidak Allah anggap sebagai pengabdian yang memiliki nilai, kecuali semata-mata komersial.

Karena motif seperti ini tidak berbeda dengan seseorang yang menemukan suatu penemuan, senjata pemusnah, misalnya, yang mana usahanya itu didorong untuk memperoleh keuntungan finansial.

Sebuah perbuatan baik dan dianjurkan jika niat yang melatarbelakanginya berada di luar pengaruh ego, dan dilakukan semata-mata demi Allah dan hamba-hamba-Nya. Semakin besar penafian diri seseorang, maka semakin tinggi nilainya dalam pandangan Tuhan.

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kepada (bagusnya) tubuh-tubuh kalian, tidak juga kepada (cermatnya) perhitungan kalian, tidak juga pada (banyaknya) harta-harta kalian, melainkan Dia melihat kepada hati kalian. Karena itu barangsiapa yang memiliki hati yang shalih niscaya Allah menyayanginya

Wallahu a'lam