Cari Berita

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, Desember 06, 2010

Makna Hijrah Menurut DR. Quraish Shihab

Berdasar Pemahaman Umum orang awam, termasuk saya, apa yang kita pahami sebagai hijrah adalah sebuah kegiatan pindahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan mempertahankan akidah islam. Namun, ternyata, terdapat hal-hal lain seputar Hijrah yang juga mencirikan makna hijrah.
Menurut DR. Quraish Shihab (pengarang tafsir Al-Mishbah), terdapat empat poin seputar hijrah:

1. kata "Hijrah", digunakan untuk mengistilahkan perpindahan suatu kaum/individu dari satu hal yang sifatnya buruk kepada hal lain yang sifatnya baik. Pengertian ini berlaku kepada kegiatan pindah tempat maupun pindah kelakuan. Contoh hijrah yang paling populer adalah peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. contoh lainnya adalah taubatnya seseorang. Jika seseorang telah bertaubat, dengan taubat nasuha, ini pun dikategorikan kepada kegiatan hijrah, berpindah dari suatu kondisi buruk kepada kondisi yang baik.

2. Alqur'an telah berjanji untuk memberikan kelapangan bagi siapapun yang berhijrah. namun, kelapangan yang akan diberikan Allah hanya berlaku bagi orang yang secara sungguh-sungguh melaksanakan Hijrah.

3. Sebelum hijrahnya Nabi Muhammad SAW, Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad pun melaksanakan Hijrah. Misalnya, Hijrahnya Nabi Musa AS beserta kaumnya dari Mesir ke Palestina. Namun, hasil dari hijrahnya Nabi-Nabi terdahulu berbeda satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh perbedaan usaha yang dilakukan oleh masing-masing Nabi. Hijrahnya Nabi Muhammad dilakukan dengan perencanaan yang matang, dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi serta bertahap. Nabi Muhammad, sebagai pemimpin, justru yang terakhir berangkat hijrah. Beliau berangkat ke Madinah bersama sahabatnya, Abu Bakar As-Siddiq. Meskipun mengalami berbagai rintangan, Nabi Muhammad tidak gentar sedikitpun. Bahkan, ketika mereka berdua bersembunyi di gua, Nabi Muhammad menenangkan Abu Bakar dengan berkata : "Sesungguhnya Allah Bersama Kita". Dan buah dari perencanaan serta kebersamaan yang tercermin dari ucapan beliau "Sesungguhnya Allah Bersama Kita", hijrah Nabi berjalan sukses.

4. Point yang cukup penting dalam berhijrah adalah usaha maksimal yang dilakukan. ketika kita sudah bertekad untuk berhijrah, maka sepantasnyalah kita berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan hijrah itu. Setelah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membantu kita dalam menjalani hijrah kita. Contoh nyatanya terdapat pada hijrah Nabi Muhammad bersama Abu Bakar dari Mekkah ke Madinah. Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, hijrah Nabi SAW dilaksanakan dengan perencanaan yang matang serta usaha yang maksimal. Ketika dikejar kaum kafir, Nabi SAW bersama Abu Bakar terpaksa bersembunyi di dalam gua. Saat itu, keadaan mereka sungguh terjepit dan tidak ada usaha lain yang dapat dilakukan selain bersembunyi. Di dalam gua, Abu Bakar menangis karena khawatir akan keselamatan Nabi yang terancam. Namun, tidak ada hal lain yang perlu ditakutkan karena Nabi telah berusaha dan bertawakkal kepada Allah. Tanpa diduga, seekor laba-laba membuat sarang dengan cepat di pintu masuk gua. Inilah pertolongan Allah bagi hamba-hambaNya yang telah berusaha. Adanya sarang laba-laba di pintu masuk gua akan mengelabui orang yang datang bahwasanya tidak mungkin ada orang di dalam gua. Pertolongan-pertolongan gaib semacam ini akan muncul jika kita memang telah berusaha secara sungguh-sungguh dalam berhijrah.

Rosulullah saw bersabda :“ Sesungguhnya Amal itu tergantung niat, Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rosulnya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rosulnya, dan
barang siapa yang hijrahnya, karena mencari dunia atau karena wanita yang akan nikahinya maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu. (HR Bukhori & Muslim)
. Wallahua'lam Bissawab.


Rabu, Juli 14, 2010

Menyambut Datangnya Bulan Puasa (Ramadhan)

Mungkin Kita Khususnya orang Jawa pasti mengenal istilah Nyadran, Nyadran berasal dari kata Sraddha yang berarti mengunjungi makam leluhur untuk membersihkan makam dan menabur bunga atau Nyekar. Kegiatan tersebut bukan ritual keagamaan (Islam), tetapi tradisi dalam kebudayaan Jawa. Sejarawan dari Belanda Zoetmulder dalam bukunya berjudul Kalangwan menjelaskan, awal mula upacara Sraddha (Nyadran) ditujukan untuk mengenang wafatnya Tribhuwana Tungga Dewi pada zaman Majapahit. Kegiatan yang dilaksanakan setahun sekali tersebut dilestarikan secara turun-temurun.

Dalam perkembangannya upacara Sraddha tidak hanya untuk mengenang wafatnya Tribhuwana Tungga Dewi saja, tetapi masyakat memanfaatkan waktu tersebut untuk mengirim doa bagi arwah para leluhurnya. Setelah agama Islam masuk ke Tanah Jawa, terjadi akulturasi budaya Jawa dan Islam yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang. Akulturasi budaya tersebut menjadi saksi abadi strategi jitu para sunan ‘Wali songo’ terutama Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam ke tengah-tengah masyarakat yang sudah memeluk suatu ajaran tanpa melalui pemaksaan kehendak, apalagi pertumpahan darah.

Sunan Kalijaga yang terkenal sakti mandra guna tetap memilih cara damai untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Strateginya menunjukkan kedalaman berfikirnya dan kematangan ilmunya yang sangat luar biasa. Agar masyarakat yang sudah lama memeluk salah satu agama tersebut dapat menerima ajaran agama Islam secara sukarela, Sunan Kalijaga memasukkan ajaran Islam melalui upacara-upacara ritual yang dilaksanakan masyarakat, termasuk upacara Sraddha.

Sunan Kalijaga mengemas upacara Sraddha (Nyadran) dalam nuansa islami yang dijatuhkan setiap bulan Ruwah sebelum bulan Puasa. Kegiatan Nyadran bukan lagi untuk mengenang wafatnya Tribhuwana Tungga Dewi, tetapi lebih bersifat acara silaturahmi yang diisi kegiatan bersih-bersih makam, kenduri dengan doa-doa islami dan tausyiah.

Sesaji dalam kenduri merupakan bahasa symbol. Ketan, kolak, dan apem yang menjadi makanan khas saat Nyadran memiliki makna khusus. Ketan merupakan lambang kesalahan (khotan), kolak adalah lambang kebenaran (kolado), dan apem (afwam) sebagai simbol permintaan maaf (ngapura). Bagi masyarakat Jawa yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya, makanan ketan, kolak, dan apem memang selalu hadir dalam setiap upacara/slametan yang terkait.

Untuk upacara tabur bunga (nyekar) di batu nisan para leluhur, murni kegiatan masyarakat yang masih terpengaruh ritus agama lamanya. Hal tersebut kala itu memang masih dibiarkan oleh Sunan Kalijaga, termasuk kenduri, karena jika dilarang, jelas akan menimbulkan gejolak yang bisa berakhir dengan penolakan ajaran agama Islam.

Kemasan islami pada tradisi Nyadran pada bulan Ruwah dan tradisi padusan pada akhir bulan Ruwah, sehari menjelang bulan Puasa sebenarnya punya tujuan khusus, menyiapkan fisik dan mental masyarakat guna menghadapi jihad akbar selama bulan Ramadhan.

Nyadran yang berkaitan erat dengan arwah, untuk mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan mati sebagaimana para leluhurnya. Karena itu masyarakat harus mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadap Allah dengan melaksanakan ajaran agama Islam sebagaimana sabda Rasulullah, beribadah lah sebaik mungkin seolah engkau akan mati esok hari. Dan, bulan Puasa merupakan kesempatan emas mengumpulkan bekal dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Masyarakat semakin dimantabkan persiapan lahir batinnya dengan kemasan tradisi Padusan. Tradisi ini ada benang merahnya dengan kebiasaan orang Jawa ketika akan melakukan laku prihatin, yakni adus banyu suci perwita sari, sekaligus mengikrarkan niatnya untuk menjalankan laku prihatin yang ditandai dengan membuang semua kotoran yang melekat di jiwa dan raga (mandi besar). Dalam konteks budaya Jawa, ibadah puasa selama bulan Ramadhan termasuk laku prihatin sehingga harus ada ikrar yang ditandai dengan laku adus banyu suci perwitasari.

Padusan sebagai bukti telah berazam (berkendak) untuk menjalankan ibadah puasa sepenuh hati. Tekadnya sudah bulat untuk menjalankan perintah Alloh SWT, jihad akbar.? Dalam titik ini, kaum muslimin dan muslimat sudah dalam posisi puncak siap berjuang sampai mati sekalipun dalam menghadapi nafsu perutnya, nafsu birahinya dan nafsu-nafsu duniawiah lainnya yang selalu membutakan hati. Semoga ini bisa menjadi pemahaman bagi kita semua khususnya umat Islam tentang arti dan makna Nyadran yg selama ini kita lakukan.

Mari kita bersama-sama menjalankan ibadah puasa di bulan penuh hikmah, penuh berkah, rahmat dan ampunan ini dengan meluruskan niat Lillahita’ala agar kita bisa menjadi golongan hamba Alloh SWT yang bertakwa...

Alloh SWT Yang Maha Mengetahui tidak hanya sekedar memerintah, namun juga memberi banyak kemewahan bagi umat-Nya yang ikhlas memenuhi perintah-Nya hingga harus menahan derita karena desakan-desakan nafsu angkara murkanya. Kemewahan tersebut diantaranya, pahala orang berpuasa akan diterima langsung oleh Allloh SWT, setiap kebaikan dari umat-Nya akan dilipatgandakan balasannya dan bonus maha menggiurkan berupa malam lailatul qodar yang hanya akan diberikan kepada umat-Nya yang dapat menjalankan ibadah puasa sebagaimana yang diinginkan-Nya.

Karena itu sungguh keliru bila ada orang berpuasa tetapi marah, benci atau berbuat buruk kepada orang yang tidak berpuasa walaupun hanya dalam hati. Sungguh tersesat bila ada yang berpuasa memaksakan kehendaknya agar orang lain juga harus berpuasa, atau memaksakan kehendak agar orang lain menghormati orang yang berpuasa, apalagi sampai melakukan perbuatan anarki, pengrusakan dan penganiayaan.

Dalam surat Al Baqarah ayat 183 sangat tegas Alloh SWT hanya mewajibkan menjalankan ibadah puasa bagi pengikut Rasulullah Muhammad SAW yang beriman saja (almu’minun). Hamba Allah yang beriman sudah memilih untuk melawan arus kelaziman demi Allahurobbul’alamin. Lapar seharusnya makan, haus seharusnya minum, dihina seharusnya marah, dipukul seharusnya membalas… tetapi yang seharusnya…seharusnya... tersebut ditinggalkan semua demi Alloh SWT.

Maka bagi yang menjalankan ibadah puasa tulus iklas Lillahita’ala jelas tidak mungkin minta untuk dihormati selama manjalankan ibadah puasa, justru sebaliknya merasa kasihan melihat orang yang tidak berpuasa karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang sangat istimewa ini.

Jumat, Februari 06, 2009

Mensyukuri Nikmat Allah



Allah senantiasa mencurahkan nikmat-Nya kepada kita dengan bermacam-macam nikmat yang tidak dapat dihitung banyaknya. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Surat An-Nahl:18:

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya engkau tidak dapat menghitung jumlahnya."
Sungguh benar firman Allah, andaikata kita hitung satu per satu, nikmatnya mata hingga kita bisa memandang indahnya dunia, nikmatnya telinga hingga kita bisa mendengarkan suara-suara yang indah, juga organ-organ tubuh kita: jantung, paru-paru, ginjal, otak, dll, itu adalah nikmat yang diberikan Allah kepada kita secara gratis tanpa membayarnya.
Dan yang tidak kalah penting adalah nikmat Allah berupa umur dan rizki yang telah kita peroleh sampai saat ini. Adakah kita pernah mengira bahwa nikmat rizki dan umur bukan berasal dari Allah? Tidak, semua yang ada di alam raya ini adalah milik Allah, termasuk diri kita sendiri, adapun umur dan rizki yang kita peroleh hanyalah titipan Allah belaka yang nantinya harus kita pertanggungjawabkan kepada yang memilikinya, yaitu Allah SWT.
Apabila kita mencoba untuk menelaah lebih dalam nikmat yang besar itu pada dasarnya tergantung pada nikmat yang kecil, la insyakartum laa adziidanakum, barangsiapa yang mensyukuri nikmat yang ada, maka Allah akan menambah nikmat baginya. Oleh karena itu, janganlah merisaukan nikmat-nikmat lain yang belum kita miliki, jangan khawatir oleh aneka nikmat yang kita inginkan dan belum kita peroleh, tetapi risaukanlah nikmat yang ada dan belum sempat kita mensyukurinya. Boleh jadi kita sering panik ketika memikirkan sesuatu yang belum kita miliki. Padahal, kita seharusnya lebih memikirkan tentang bagaimana caranya kita mensyukuri apa yang telah kita nikmati. Sebab rasa syukur itulah yang akan mencukupkan dan akan mengundang nikmat-nikmat berikutnya.
Alangkah berat jika kita merasa memiliki sesuatu, namun kita takut kehilangan atau takut tersaingi. Ada sebuah perumpamaan yang sederhana mengenai tukang parkir. Walaupun banyak mobil dia tidak sombong, ganti-ganti mobil dia juga tidak menjadi takabur. Bahkan ketika semua mobil diambil sampai habis, dia tidak sakit hati. Sebab, dia hanya merasa dititipi. Lillahi maa fissamaawaati wamaa fil ardl, semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Salah satu yang bisa membuat kita tenteram dan menjadi ahli syukur adalah kita sadar bahwa semua nikmat yang ada ini hanya berasal dari Allah dan hanya milik Allah. Adapun kita, hanya sekedar tertitipi beberapa saat saja.
Oleh karena itu, adanya nikmat jangan membuat kita menjadi sombong, karena itu hanya titipan saja. Sedikitnya nikmat juga tidak usah membuat kita minder, karena itu juga titipan. Melihat orang lain yang tertitipi banyak rizki, kita sama sekali tak perlu dengki. Sebab yang mereka miliki juga hanya titipan dari Allah. Maka sesuka Allah-lah membagikan nikmat kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. dan kalau diambil oleh Allah pun tak perlu sakit hati, karena memang semua nikmat itu hanyalah titipan dariNya.
Orang yang paling beruntung di dalam hidup ini adalah orang yang dipenuhi oleh rasa syukur. Ada 5 bentuk syukur nikmat yang perlu kita renungkan.
1. Yakinkan bahwa semua nikmat itu hanya milik Allah. Tiada pembagi nikmat selain Dia.
2. Ucapkan alhamdulillahirabbil'alamin, segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Pujilah Allah dalam segala situasi karena apa yang kita nikmati sesungguhnya melampaui apa yang menyusahkan diri kita. Jika kita dipuji orang sebagai orang yang cerdas, maka sebenarnya otak dan pikiran kita adalah ciptaan Allah. Dan kalau pun dipuji karena harta, itu pun ternyata hanya titipan belaka. Ucapan alhamdulillah yang muncul dari pikiran yang sehat dan sempurna pasti akan menimbulkan rasa syukur atas segala nikmat yang diterimanya dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ucapan subhanallah akan menimbulkan rasa takjub yang mengartikan kebesaran Allah serta kesucian-Nya dari segala sifat-sifat kekurangan.
3. Berterima kasih kepada orang yang menjadi jalan nikmat. Harus disadari bahwa selain syukur kepada Allah, kita juga harus bersyukur kepada manusia sebab tidak disebut seseorang itu sebagai ahli syukur kecuali ia juga pandai bersyukur kepada manusia.
4. Jadikan setiap kenikmatan itu menjadi jalan pendekat kepada Allah. Orang yang bersyukur karena memiliki keturunan, maka ia mempunyai kewajiban untuk mendidik anak keturunannya itu agar dekat dengan Allah, agar menjadi anak yang sholeh berbhakti kepada kedua orangtuanya.
5. Bagi orang yang bersyukur karena memiliki profesi sebagai guru atau pendidik, maka profesi itu harus dijalani dengan ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu dari anak didik, justru sebaliknya harus membekali mereka dengan ilmu untuk masa depannya, itulah investasi kita di alam kubur sebagai amal jariyah.

Tiada Tuhan selain Allah, yang menciptakan nikmat. Dia pula yang memberikan nikmat itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Walaupun seluruh kata-kata kita kerahkan untuk memuja dan memuji-Nya, pastilah tidak sebanding dengan keagungan, kebebasan, dan limpahan nikmat yang telah Allah limpahkan.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:

"Wahai hamba-Ku, tidak Ku-ciptakan kalian hanya karena ingin memperbanyak jumlah kalian yang sedikit, juga bukan untuk tujuan bersenang-senang dengan kalian karena rasa kesepian. Bukan pula karena Aku ingin meminta tolong kepada kalian karena suatu hal yang tak mampu Ku-atasi. Aku ciptakan kalian agar kalian berdzikir kepada-Ku sebanyak-banyaknya, beribadah kepada-Ku selama-lamanya, dan agar kalian bertasbih kepada-Ku setiap pagi dan petang hari."
Berkenaan dengan hadits tersebut kita harus meniatkan apa-apa yang kita lakukan semata-mata hanya karena Allah. Sebagai seorang petani atau pedagang maka bertani dan berdaganglah secara Islami dan meniatkan untuk memperoleh ridho Allah, jika demikian insya Allah akan dicatat sebagai amal ibadah disamping ibadah-ibadah lain yang harus kita lakukan. Sebagai seorang penuntut ilmu, baik itu ilmu agama atau pun ilmu di sekolah, jika kita niatkan semata-mata untuk memperoleh ridho Allah maka insya Allah dia tercatat sebagai seorang ahli dzikir.
Umur yang kita pakai sekarang ini akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah untuk apa saja umur kita habiskan. Bentuk rasa syukur kelima berhubungan dengan nikmat umur yang telah kita jalani adalah kita sering-sering mengevaluasi diri, menghisab diri sendiri sebelum kita dihisab di hari perhitungan nanti di akhirat.
Oleh karena itu marilah kita sama-sama mengingat maut yang sewaktu-waktu bisa datang menjemput kita. Supaya rasa syukur kita terhadap nikmat umur semakin bertambah.
Marilah kita berdoa bersama-sama, menghadapkan wajah kita kepada Allah, agar kita diberikan kesempatan untuk bisa menghadapkan wajah kita kepada Allah dengan tenang di akhirat nanti.

Sumber: MQ

Jumat, November 14, 2008

SHOLAT YANG PALING UTAMA


Dalam menunaikan kewajiban Sholat 5 (lima ) waktu, kita ummat Islam kadang terlalu menyepelekan hal-hal yg Sunnah. Sesungguhnya kalo kita menengok sejarah beliau Rosululloh SAW dalam Sholatnya sehari-hari beliau selalu sholat di Masjid, ada seorang Kiai saya lupa namanya berdakwah lewat Televisi, dia bilang "Sungguh indah sebuah keluarga yang setiap hari melakukan sholat berjamaah, Ayahnya menjadi Imam, Istri & anak-anaknya menjadi makmum, itu adalah contoh bagi para Bapak (Muslim) pada orang lain", hal tersebut menimbulkan kerancuan akan keutamaan sholat,
Sholat yang sesuai Sunnah Rosulluloh SAW adalah dengan mengutamakan kekhusukan, selalu tepat waktu & dilaksanakan di masjid dengan berjamaah, bukan dirumah.
Apa jadinya kalo semua umat Islam masing-masing sholatnya di rumah, maka banyak masjid yang kosong dan hanya diisi pada saat hari jum'at, buat apa kita susah payah membangun masjid dengan biaya milyaran kadang bahkan trilyunan tapi tidak dimanfaatkan untuk sholat berjamaah.
Masjid adalah tempat ibadah yang khusuk bahkan disebut "Rumah Alloh" Maka sebenarnyalah kita sholat berjamaah di Masjid, khususnya para bapak-bapak, itu baru namanya pengikut Rosululloh SAW yg selalu mencontoh apa yang beliau lakukan. Intinya anjuran yang benar adalah sholat yang dilakukan di masjid, bukan dirumah bersama keluarga.
Semoga kita bisa menjadi umat yang selalu mencontoh Rosululloh SAW dengan melaksanakan Perintah Alloh dan sunnah-sunnah Rosululloh, niscaya kita akan menjadi umat yang beruntung, karena dihari kiamat nanti yang paling utama ditanya Alloh SWT adalah Sholat kita, jika sholatnya bagus niscaya yang lain ikut bagus begitu juga sebalikya, untuk itu marilah kita selalu berusaha khusuk dalam mendirikan sholat, Sesungguhnya sholat itu mencegah dari segala perbuatan keji dan mungkar. Amiin ya robbal 'alamin!.

Rabu, November 12, 2008

AMROZI CS MUJAHID ATAU MUJAHIL


Hukuman mati Amr0zi cs terpidana bom bali telah dilaksanakan. Pihak pemerintah pernah mengajukan Grasi ( pengampunan ) namun di tolak. Hari -hari yang dilalui oleh ketiga terpidana Mati itu penuh dengan tanda tanya ” akankah Alloh Terima segala amal yang selama ini mereka yakini sebagai sesuatu yang di benarkan Islam? Kami telah melakukan Jihad dan akan mati syahid “Kami tidak takut terhadap hukuman mati ” dengan lantang Amrozi CS berkomentar.

Wallohu a’lam …….hanya Alloh yang tahu mereka akan mati syahid atau tidak….hanya Alloh yang tahu mereka mendapat surga atau jurang neraka….hanya Alloh yang tahu Mereka Mujahid ( orang yang berjihad) atau Mujahil ( orang yang bodoh)….Sebagai manusia awam kita tidak akan tahu pasti nasib manusia kelak kita hanya berharap segala amal ibadah diterima Alloh swt.

Maka kita tidak bisa memvonis masuk surgakah dia atau laknatkah dia? Hanya Alloh yg tahu, kita masuk surga karena Rakhmat & karunia Alloh SWT, sebesar apapun dosa kita, kecuali Syirik dan Sebanyak apapun amalan kita bukan jaminan Surga, Hanya Alloh yang tahu, Wallohu a’lam untuk itu kita sebagai Muslim hanya bisa mendoakan, Ya Alloh Ampunilah dosanya & terimalah ibadahnya, Amiiinn

Dari berbagai sumber

Jumat, Oktober 31, 2008

Niat Itu Nilai Utama Ibadah


Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syakilatihi) masing-masing”.

Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”

(Al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat 84)

Diriwayatkan dari Imam al-Shadiq as, bahwa beliau berkata, “Niat itu lebih utama daripada amalnya. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya niat itu adalah amal”, kemudian beliau membaca ayat : ”Katakanlah : ”Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syakilatihi) masing-masing”, yaitu menurut niatnya.”

Islam telah mengikatkan nilai suatu ibadah dan kerja berdasarkan niatnya. Dengan demikian, Islam memisahkan nilai dan hasil suatu kerja atau ibadah seseorang. Nilai sebuah perbuatan dalam Islam tidak didasarkan pada hasil atau pencapaian yang dihasilkan oleh para pelaku, akan tetapi pada niat yang melatarbelakanginya, kesucian, serta besarnya kesungguhan di dalam usaha atau ibadah seseorang.

Contohnya, orang yang berhasil menemukan obat sebuah penyakit berbahaya telah menyelamatkan nyawa jutaan orang. Allah tidak menilai seberapa besar hasilnya juga jumlah orang yang telah terselamatkan dari kematian.

Allah menilainya dari perasaan dan keinginan yang terbentuk di dalam niat sang penemu. Jika usaha penemuannya itu hanya untuk mendapatkan keuntungan jutaan dollar, perbuatan ini tidak Allah anggap sebagai pengabdian yang memiliki nilai, kecuali semata-mata komersial.

Karena motif seperti ini tidak berbeda dengan seseorang yang menemukan suatu penemuan, senjata pemusnah, misalnya, yang mana usahanya itu didorong untuk memperoleh keuntungan finansial.

Sebuah perbuatan baik dan dianjurkan jika niat yang melatarbelakanginya berada di luar pengaruh ego, dan dilakukan semata-mata demi Allah dan hamba-hamba-Nya. Semakin besar penafian diri seseorang, maka semakin tinggi nilainya dalam pandangan Tuhan.

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kepada (bagusnya) tubuh-tubuh kalian, tidak juga kepada (cermatnya) perhitungan kalian, tidak juga pada (banyaknya) harta-harta kalian, melainkan Dia melihat kepada hati kalian. Karena itu barangsiapa yang memiliki hati yang shalih niscaya Allah menyayanginya

Wallahu a'lam